ACEH TAMIANG, RMNEWS.ID-Sudah memasuki hampir dua bulan pasca banjir besar melanda Kabupaten Aceh Tamiang, kondisi di berbagai titik lokasi di wilayah Kabupaten Aceh Tamiang masih berkubang lumpur tebal dan tumpukan matrial, Minggu , 18 Januari 2026. Seluruh rumah warga korban bencana masih banyak yang porak poranda dan hanyut akibat diterjang banjir yang sangat dahsat.
Pada umumnya warga korban banjir kini banyak masih bertahan di tenda tenda pengungsian yang ada di sejumlah titik, maupun lokasi yang aman, seperti lokasi pengungsian di halaman kantor Bupati Aceh Tamiang, setelah wilayah Kabupaten Aceh Tamiang dilanda banjir pada 27 November 2025 lalu.
Tak hanya itu, akibat banjir tersebut debu berterbangan di kawasan jalan lintas Banda Aceh-Medan. Kondisi tersebut bahkan membuat pengendara rentan terserang debu ketika berkativitas pada siang dan malam hari karena debu mengganggu jarak pandang pengendara.

Lokasi terparah wilayah Kota Lintang persisnya dibawah jembatan seluruh perumahan tertimbun matrial. (Foto/Jasniwati).
Banyak masyarakat terpaksa menggunakan masker dan penutup mata untuk melindungi diri saat beraktivitas. Demikian juga sebaliknya, jika hujan turun sepanjang jalan litas juga licin. Apalagi saat ini kondisi ruas jalan berlobang-lobang sehingga membuat pengendara harus ekstra hati-hati.
Pantauan rmnews.id di lokasi di wilayah Aceh Tamiang, Minggu (18/2/2026), dari mulai Desa Seumadam hingga Kota Langsa terlihat jalan-jalan rusah dan berlubang lubang diterjang air, begitu juga di dalam Kota Kualasimpang masih berkubang lumpur menumpuk, baik di jalan-jalan Kota Kuala Simpang maupun dirumah rumah warga dan pemilik tuko terlihat sibuk membersihkan lumpur tebal dengan menggunakan semprotan air.
Jalan keluar Lintas Banda Aceh –Medan menuju jalan Negara yaitu Jalan Cut Nyak Dhien dan S.Parman Kota Kualasimpang, memang sebagian sudah bersih dari tumpukan kayu gelondongan dan sampah yang terbawa arus banjir.

Jalan lintas Banda Aceh persisnya diatas jembatan Kota Kuala Simpang masih diselimuti debu. (Foto/Jasniwati).
Namun kota Lintang bawah yang posisinya persis di bawah jembatan terlihat belum tersentuh perbaikan, tumpukan kayu gelondongan dan sampah masih menumpuk seperti gunung. Dilokasi ini rumah penduduk sudah rata tertimbun tumpukan berbagai matrial sampah dan kayu gelondongan.
Demikian juga kondisi jalan di Kota Kualasimpang diselimut debu yang sangat tebal, jarak pandang diperikrakan 30 sampai 50 meter, sehingga sangat mengganggu dan membuat warga pemakai jalan, terutama yang mengenderai sepeda motor sangat tidak nyaman karena banyak debu yang berterbangan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun rmnews.id menyebut, total bangunan terdampak banjir mencapai 58.000 bangunan mengalami kerusakan. Demikian juga fasilitas publik sebanyak 285 rumah ibadah dan 12 Puskesmas mengalami kerusakan berat, termasuk peralatan medis dan armada ambulans dan begitu juga kenderaan baik ruda empat dan roda dua yang tertimbun lumpur.
Dibawah tumpukan matrial kayu gelondongan dan sampah ini masih tertimbun perumahan warga yang belum tersentuh perbaikan. (Foto/Jasniwati).
Selain itu, gedung instansi Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, seperti Dinas Pendidikan, Rumah Sekolah, Kantor Polres Aceh Tamiang, Pos Lantas dan polsek yang berada di jalan Lintas Medan-Banda Aceh Kota Kuala Simpang, asrama batalion Infantri-111 Tualang Cut dan Kodim Langsa juga penuh tumpukan lumpur dan saat ini sedang dilakukan pembersihan.
Demikian juga kondisi pemukiman, banyak rumah warga di bantaran sungai kini hanya tersisa pondasi akibat terjangan banjir bandang. Tumpukan kayu gelondongan yang sebelumnya menyumbat kawasan kritis seperti Pondok Pesantren Darul Mukhlisin mulai dibersihkan dan jalan masuk dialihkan untuk membangun tanggul darurat.
Informasi yang diperoleh rmnews.id, sebanyak 154 KK warga terdampak telah menempati unit rumah Hunian Sementara yang disediakan pemerintah. Dari target pemerintah mengejar penyelesaian total 600 unit Huntara sementara untuk warga di zona merah (Kota Lintang dan Sukajadi).

Ini adalah matrial berbagai sampah pasca banjir yang masih tertumpuk rata setinggi jembatan. (Foto/Jasniwati).
Tak hanya itu, tim pemulihan pasca banjir juga kabarnya masih menghadapi tantangan berupa minimnya penerangan jalan umum akibat infrastruktur listrik yang rusak. Selain itu, ada sebagian warga yang masih enggan direlokasi karena khawatir kehilangan akses mata pencaharian di pusat kota Kuala Simpang.
Untuk mengatasi pemulihan menyeluruh, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang saat ini terus melakukan berbagai upaya pendekatan dengan perusahaan pemegang Hak Guna Usaha (HGU) untuk penyediaan lahan Hunian Tetap (Huntap).
Demikian juga, tim medis TNI, Polri, BUMN, dan relawan terus masih bekerja untuk dan memantau ke berbagai lokasi pengungsi guna memberikan pelayanan kesehatan kepada pengungsi baik di hunian sementara maupun di tempat tempat pengungsi, hal ini dilakukan guna mengantisipasi penyakit pascabanjir pada masyarakat terdampak terutama kepada lansia dan anak-anak.***
Laporan : wartawan dan tim redaksi rmnews.id dari Kota Kuala Simpang, Aceh Tamiang
























































