JAKARTA, RMNEWS.ID– Setelah dunia dikejutkan dengan isu merebaknya super flu, perhatian publik kembali tertuju pada kemunculan virus Nipah di India.
Virus berbahaya ini dilaporkan menyebabkan sekitar 100 orang harus menjalani karantina di wilayah Bengal Barat, menimbulkan kekhawatiran akan potensi wabah yang lebih luas.
Berdasarkan informasi dari World Health Organization (WHO), sebagaimana dilansir CNN, virus Nipah atau Nipah virus (NiV) merupakan penyakit zoonosis, yakni infeksi yang dapat menular dari hewan ke manusia.
Karakteristik penularannya disebut mirip dengan virus Ebola yang sempat menggemparkan dunia pada 2014.
Secara historis, virus Nipah pertama kali teridentifikasi pada 1999 di Malaysia.
Namun, kasus infeksi pada manusia pertama kali tercatat pada 2004 di Bangladesh. Selanjutnya, pada 2018, India melaporkan terjadinya penularan virus Nipah dari manusia ke manusia.
WHO menjelaskan, inang alami virus Nipah adalah kelelawar buah dari genus Pteropus.
Selain itu, virus ini juga dapat ditemukan pada sejumlah hewan ternak seperti babi, kuda, kambing, dan domba, serta hewan peliharaan seperti anjing dan kucing.
Penularan awal umumnya terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau konsumsi buah yang telah terkontaminasi air liur kelelawar, yang dikenal sebagai peristiwa spillover.
Dalam perkembangannya, virus Nipah juga terbukti dapat menular antarmanusia.
Salah satu kasus signifikan terjadi pada 2001, ketika penularan meluas di lingkungan rumah sakit dan melibatkan tenaga medis serta pengunjung.
Data menunjukkan sebagian besar penularan terjadi melalui kontak erat dengan pasien.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menyebutkan, gejala infeksi virus Nipah bervariasi dari ringan hingga berat.
Gejala umum meliputi demam, sakit kepala, batuk, radang tenggorokan, dan kesulitan bernapas.
Pada kondisi lebih parah, pasien dapat mengalami ensefalitis, pembengkakan otak, kejang, gangguan kesadaran, hingga koma dalam waktu singkat, yakni 24–48 jam setelah gejala berat muncul.
WHO memasukkan virus Nipah ke dalam daftar 10 patogen paling berisiko memicu wabah besar.
Tingkat fatalitasnya tergolong tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergantung pada karakteristik wabah, sistem pengawasan epidemiologi, serta kesiapan fasilitas layanan kesehatan di suatu wilayah.
Hingga kini, belum tersedia vaksin yang terbukti secara klinis untuk mencegah infeksi virus Nipah.
Meski demikian, upaya pengembangan vaksin terus dilakukan. Pada Desember 2025, Universitas Oxford dilaporkan telah menyelesaikan uji klinis fase II kandidat vaksin virus Nipah di Bangladesh bekerja sama dengan sejumlah lembaga internasional.
Otoritas kesehatan menegaskan, masyarakat yang mengalami gejala mencurigakan setelah kontak dengan hewan atau pasien terduga segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Pasien yang diduga terinfeksi akan diisolasi, sementara orang-orang yang memiliki riwayat kontak erat diwajibkan menjalani karantina guna mencegah penyebaran lebih lanjut.**
Redaktur: Gusti Rangga
Sumber: CNN
























































