LINGGA, RMNEWS.ID-Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kabupaten Lingga mengutus empat orang kader untuk mengikuti Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Provinsi Kepulauan Riau 2026 yang digelar di Batam, 7–8 Februari 2026. Forum ini menjadi ruang konsolidasi strategis organisasi dalam merumuskan arah gerak dan penguatan peran Hidayatullah di tengah dinamika masyarakat.
Tuan rumah Rakerwil, Khoirul Amri, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya agenda tersebut. Ia menilai Rakerwil bukan sekadar forum rutin organisasi, melainkan momentum strategis untuk menghadirkan gagasan dan program yang berdampak langsung bagi umat dan masyarakat luas. “Ini agenda penting untuk memperkuat kontribusi Hidayatullah secara nyata,” ujarnya.
Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kepri , Lukman Hakim, berharap seluruh peserta mengikuti Rakerwil dengan kesungguhan dan tanggung jawab. Ia menekankan pentingnya melahirkan inovasi serta program kerja yang tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. “Raker ini harus menjadi ruang lahirnya gagasan solutif dan aplikatif,” kata Lukman.
Rakerwil secara resmi dibuka oleh Kepala Departemen Organisasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Dudung Amadung Abdullah, yang membacakan mandat Ketua Umum Hidayatullah. Mandat tersebut menegaskan tema besar Rakerwil, yakni konsolidasi jati diri dan transformasi organisasi menuju Hidayatullah yang mandiri dan berpengaruh.
Dalam arahannya, Dudung menegaskan bahwa kepemimpinan dalam Islam merupakan bentuk pengabdian untuk memajukan umat, bangsa, dan peradaban Islam. Menurutnya, tujuan utama kepemimpinan adalah menghadirkan kemaslahatan, sejalan dengan hakikat Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan kader yang terencana dan terstruktur. Dudung mengungkapkan masih adanya persoalan internal organisasi, seperti pengambilan keputusan yang tidak konsisten serta praktik penugasan yang tidak melalui mekanisme yang semestinya. “Hal-hal semacam ini harus dibenahi agar organisasi berjalan tertib dan efektif,” ujarnya.

Peserta Rakerwil Hidayatollah Kepri. (Foto/Handoyo).
Lebih lanjut, Dudung memaparkan tiga aspek utama dalam pengelolaan kader. Pertama, mainstream organisasi, yakni kemampuan menjaga arus utama gerak organisasi agar tetap berada pada tujuan strategis yang disepakati bersama. Menurutnya, seluruh aktivitas harus berada dalam satu jalur yang jelas untuk menghindari fragmentasi arah dan kebijakan.
Kedua, pemahaman terhadap sifat dan fungsi organisasi. Dudung menekankan bahwa organisasi tidak hanya dipahami sebagai struktur formal, tetapi juga sebagai sistem yang memiliki peran sosial, dakwah, dan pendidikan. Pemahaman ini penting agar setiap kader mampu menempatkan diri sesuai peran dan tanggung jawabnya.
Ketiga, pengenalan yang utuh terhadap Hidayatullah sebagai organisasi. Ia mengingatkan pentingnya merujuk pada sumber-sumber resmi organisasi, termasuk media internal seperti Majalah Hidayatullah, sebagai rujukan memahami visi, misi, dan garis perjuangan. “Pemahaman yang benar terhadap identitas organisasi adalah fondasi utama dalam menjalankan program dan aktivitas kader,” kata Dudung.
Rakerwil Hidayatullah Kepri 2026 diharapkan menjadi titik tolak penguatan konsolidasi dan transformasi organisasi, sekaligus mempertegas peran kader Hidayatullah di daerah, termasuk dari Kabupaten Lingga, dalam membangun organisasi yang mandiri dan berpengaruh di tengah masyarakat.*
Laporan : Handoyo rmnews.d Kabupaten Lingga.























































