JAKARTA, RMNEWS.ID- Penerima Hadiah Nobel Perdamaian 2023, Narges Mohammadi, dilaporkan kembali ditangkap dan mengalami kekerasan oleh aparat keamanan Iran saat berpidato di hadapan warga di Kota Mashhad, Jumat (12/12/2025).
Informasi tersebut disampaikan oleh pihak keluarga Mohammadi.
Saudara Narges, Hamid Reza Mohammadi, mengungkapkan kekhawatirannya atas kondisi sang aktivis hak asasi manusia (HAM) tersebut.
Ia menyebut penangkapan itu berpotensi membahayakan kesehatan Narges yang tengah menjalani cuti medis dari penjara.
“Jika mereka berniat menyakitinya, saya tidak melihat ada hasil positif yang bisa terjadi. Kekhawatiran terbesar saya adalah kesehatannya,” ujar Hamid Reza, dikutip dari Al Jazeera.
Narges Mohammadi (53) diketahui menjalani cuti medis selama satu tahun terakhir dari penjara Iran.
Selama masa tersebut, ia kembali aktif dalam kegiatan advokasi, termasuk memperjuangkan hak-hak perempuan, pembebasan tahanan politik, serta transisi damai menuju demokrasi elektoral di Iran—aktivitas yang menjadi dasar penganugerahan Hadiah Nobel Perdamaian kepadanya.
Peristiwa di Mashhad menjadi penampilan publik pertamanya sejak menjalani cuti medis.
Mohammadi melakukan perjalanan dari Teheran untuk menghadiri upacara peringatan pengacara HAM Khosrow Alikordi, yang ditemukan meninggal dunia awal bulan ini.
Dalam sejumlah video yang beredar di media sosial, Mohammadi terlihat berdiri di atas mobil dan berpidato di hadapan para pelayat di luar sebuah masjid.
Menurut kesaksian yang diterima keluarga, lokasi acara telah dikepung aparat keamanan dan intelijen.
“Ada begitu banyak aparat mengelilingi masjid. Lalu mereka menyerang massa dan memukul banyak orang, terutama di bagian kepala,” ujar Hamid Reza, mengutip saksi mata.
Ia menambahkan, Narges Mohammadi diseret secara paksa dan dimasukkan ke dalam mobil oleh aparat, bahkan rambutnya ditarik. Mohammadi diketahui menolak mengenakan jilbab, yang diwajibkan oleh aturan Republik Islam Iran.
Yayasan Narges yang berbasis di Paris menyatakan bahwa penangkapan tersebut juga menyeret sejumlah aktivis lain, di antaranya Sepideh Qolian, Pouran Nazemi, Hasti Amiri, dan Aliyeh Motalebzadeh.
Laporan tambahan menyebutkan penahanan Asadollah Fakhimi, Akbar Amini, Hasan Bagherinia, dan Abolfazl Abri.
Sebelum aparat membubarkan massa, Mohammadi sempat memimpin seruan menyebut nama Majidreza Rahnavard, pemuda 23 tahun yang dieksekusi di Mashhad tiga tahun lalu atas tuduhan terlibat dalam gelombang protes nasional menyusul kematian Mahsa (Jina) Amini dalam tahanan polisi moral.
Amnesty International sebelumnya menyebut persidangan Rahnavard sebagai “pengadilan palsu”.
“Beberapa orang meneriakkan slogan menentang rezim, mengatakan bahwa ini akan menjadi tahun terakhir rezim,” kata Hamid Reza.
Ia menegaskan bahwa sang adik tidak melakukan provokasi. “Narges menginginkan perubahan rezim secara damai. Masyarakat berhak menyampaikan kekecewaan mereka.”
Narges Mohammadi memiliki riwayat kesehatan serius, termasuk serangan jantung dan operasi pengangkatan lesi tulang, sebelum diberikan cuti medis pada Desember 2024.
Ia masih memiliki sisa hukuman 10 tahun penjara atas sejumlah dakwaan, termasuk tuduhan “menyebarkan propaganda melawan negara”.
Iran sendiri memiliki catatan panjang terkait penahanan, penghilangan, maupun kematian aktivis terkemuka.
Pada Juli lalu, Komite Nobel menyampaikan keprihatinan atas “ancaman berkelanjutan” terhadap Mohammadi, merujuk pada pernyataannya bahwa ia telah menerima ancaman “eliminasi fisik” baik secara langsung maupun tidak langsung dari agen rezim.**
Redaktur: Gusti Rangga
Sumber: Al Jazeera























































