JAKARTA, RMNEWS.ID- Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Iran menyatakan seluruh kekuatan militernya berada dalam status siaga penuh.
Pernyataan keras ini disampaikan menyusul pengerahan besar-besaran armada militer Amerika Serikat (AS) ke wilayah tersebut.
Teheran menegaskan, setiap bentuk serangan dari Washington—apa pun skala dan bentuknya—akan dipandang sebagai pemicu perang terbuka.
Seorang pejabat tinggi Iran mengatakan, pemerintah sebenarnya berharap langkah militer AS tidak berujung pada konfrontasi langsung.
Namun demikian, militer Iran disebut telah menyiapkan berbagai kemungkinan terburuk sebagai langkah antisipasi.
“Kami berharap pengerahan ini tidak dimaksudkan untuk konflik nyata. Tetapi pada saat yang sama, seluruh elemen pertahanan Iran kini berada dalam kondisi siaga tinggi untuk menghadapi skenario terburuk,” ujar pejabat tersebut,dikutip dari The Independent, Sabtu (24/1/2026).
Ia menambahkan, Iran tidak akan membedakan jenis serangan yang mungkin dilakukan AS. Serangan terbatas, terarah, maupun berskala besar akan dianggap sama seriusnya.
“Segala bentuk serangan akan kami maknai sebagai perang total. Respons Iran akan dilakukan dengan kekuatan maksimal untuk mengakhiri ancaman tersebut,” tegasnya.
Peningkatan ketegangan ini dipicu oleh pergerakan gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln beserta tiga kapal perusak pengawalnya yang dilaporkan telah memasuki Samudra Hindia dan dijadwalkan tiba di Timur Tengah dalam waktu dekat.
Armada tersebut akan memperkuat kehadiran militer AS yang sebelumnya telah menyiagakan tiga kapal tempur di Bahrain serta dua kapal perusak di Teluk Persia.
Secara keseluruhan, pengerahan ini melibatkan sekitar 5.700 personel militer tambahan.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengonfirmasi pergerakan armada tersebut pada Kamis (22/1/2026).
Meski menyatakan harapannya agar kekuatan militer itu tidak perlu digunakan, Trump tetap melontarkan peringatan keras kepada Teheran, khususnya terkait isu program nuklir dan penanganan aksi demonstrasi di dalam negeri Iran.
Menanggapi pernyataan tersebut, Iran menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kedaulatan negara.
Pejabat senior Iran itu menilai tidak ada pilihan lain selain memobilisasi seluruh kemampuan pertahanan guna menjaga keutuhan wilayah.
“Jika kedaulatan dan integritas teritorial Iran dilanggar, kami pasti akan merespons. Negara yang terus-menerus berada di bawah ancaman militer tidak punya pilihan selain memastikan seluruh sumber dayanya siap digunakan,” ujarnya.
Iran juga menyebut langkah tersebut sebagai upaya menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan, di tengah tekanan dan ancaman yang dinilai terus datang dari Amerika Serikat.**
Redaktur: Gusti Rangga
Sumber: The Independent























































