LINGGA, RMNEWS.ID- Di balik secangkir kopi yang pahit, selalu ada kisah tentang keteguhan dan harapan.
Itulah ruh utama buku Inspirasi Kopi: Pahit yang Membawa Berkah karya ASN PPPK Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lingga, Muh Hamka Syaifudin, yang rencanya pekan depan akan dilaunching di Kedai Kopi Balang Daik Lingga.
Buku tersebut mengangkat kisah perjuangan seorang penyandang disabilitas bernama Dali, sosok sederhana yang menapaki hidup dengan tongkat kecil di tangannya.
Sejak usia dua setengah tahun, Dali telah berdamai dengan keterbatasan fisik.

Tongkat yang setia menemaninya bukan sekadar alat bantu, melainkan saksi perjalanan panjang melawan stigma, keraguan, dan kerasnya kehidupan.
“Bagi Dali, keterbatasan bukan luka yang harus disembunyikan, melainkan jalan hidup yang membentuk caranya memaknai syukur,” tulis Hamka dalam salah satu bagian bukunya.
Dari perjalanan itulah Dali tumbuh menjadi pribadi tangguh hingga akhirnya mampu membangun kedai kopi yang kini dikenal sebagai salah satu kedai legendaris di Daik Lingga.
Hamka menuturkan, buku ini tidak sekadar bercerita tentang kopi atau usaha, tetapi tentang keberanian manusia menerima takdir dan mengubahnya menjadi berkah.
“Tongkat itu bukan tanda kelemahan, melainkan simbol keteguhan. Keterbatasan tidak pernah menghalangi seseorang untuk tumbuh dan memberi makna,” ujarnya, Rabu (7/1/2026).
Peluncuran buku ini nanti akan dirangkai dengan kegiatan bersama anak-anak disabilitas, sebagai bentuk keberpihakan pada nilai inklusivitas dan kemanusiaan.
Hamka berharap, buku yang diterbitkan oleh AE Publishing ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi anak-anak yang memiliki kelebihan ini agar tetap percaya diri dan berani meraih mimpi mereka.
“Semoga buku ini menjadi penguat bahwa setiap orang punya kesempatan yang sama untuk bermakna, apa pun kondisinya,” kata Hamka.

Inspirasi Kopi bukanlah karya pertama Hamka. Sebelumnya, ia telah beberapa kali menerbitkan buku, baik secara solo maupun berkolaborasi dengan para santri di pesantren dan juga sekolah-sekolah.
Melalui karya-karyanya, Hamka terus menggaungkan pentingnya literasi dan budaya menulis di tengah masyarakat.
“Menulis adalah cara sederhana untuk menjaga ingatan, merawat nilai, dan mewariskan inspirasi. Mari kita kembalikan budaya menulis,” tutupnya.**
Redaktur: Gusti Rangga























































